Wednesday, May 29, 2013

Men Can Be Destroyed But Not Defeated

Salmonella Typhoon is back! And I have decided to create some changes in my blog. From now on I am trying to post in English. There are several reasons for this. The first reason is that I am going to go on an adventure to an English speaking country, and since my English is getting rusty I have to train it somewhat and somewhere. So I decided to hone my English skill here. Expect some grammatical errors as you read the posts, feel free to correct but I doubt someone will be diligent enough to do it. :p The second reason is to made this blog more internationally available. I realized that this blog has several visits from overseas maybe because of the English title, and unfortunately if there are really visitors from overseas (I don't know if the statistics are true or not, or maybe the visitors are just some kind of bots) they cannot read my posts. So I am trying to make it understandable for more people even though the readers are still quite few. Actually I don't care about who read this blog but my perfectionist side just got the best of me. So here is my first English post.

Okay let's get on to the topic, the quote for today is "men can be destroyed but not defeated". I forget where I read this passage but I tell you this quote is not mine.When I google it, it is said that the quote is came from Hemmingway's "The Old Man and The Sea". I am sure I have never read the novel and I don't know the context of the passage in that novel. So the interpretation of the passage in this post is purely mine. At the first time I read the passage, I think that the quote is very negative. Sounds like men have a very high pride and their pride insists them to win every battle and argument. It is better to die rather than accepting defeat. It is actually true in some levels because men have a very high level of testosterone in their body and it pushes them to be the alpha male, the leader, the best man everywhere they live. However, this ideology also does not sound very sportive and more like a savage person would do. So at first I do not really like the quote.

http://sphotos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/p480x480/11849_520518231319286_331508054_n.jpg
This ball is mine, take it over my dead body

However, on second thought I think this quote actually contains a lot of hope. One day, I read a book titled "From Good Man to Valiant Man" by Dr. Allan Meyer. In the book he said that a defeat is not about not winning, but to give up, believe that we are not capable, and stop trying. To support his argument, he also quotes some of the words from Winston Churchill which sounds more or less like this: " Success is the ability to move from one failure to another failure without losing enthusiasm", and "Never, never, never give up". Looking at those perspective, the quote "Men can be destroyed but not defeated" is very beautiful. It is true that men can be destroyed, for example by weapons, diseases, disasters, and time. However, the spirit within men (in this context the word "men" refers to both men and women as human being) cannot be taken from them until they die. There is no such thing as defeat as long as we keep fighting for our purposes.

Sometimes it's hard for us to face failures, it feels like we will never be able to get up again. But remember, if you still can breathe it means you are not over yet. You are defeated when you give up on something you are pursuing. Even if you die while trying to achieve your goal, you still die as a winner. Therefore, do not be afraid of failure, because you can still get something precious in every failure. This ideology is said perfectly in one of Dr. Allan Meyer's anecdote of riding a bike. He says that if we ride a bike for 10 km and fall off the bike on km 3, we don't lose the 3 km we have gone through so there is no need to start over from the start. Just get on the bike and start again from km 3. Also we cannot be a good bicycle rider if we are afraid of falling off the bike. Just be afraid of giving up because giving up would not give you anything to learn.

Adventurers, I would not say that your adventure will be a smooth ride. However, I can say that your adventure will be fruitful if you keep struggling till the end. Like I always say, do not lose hope and just have a little faith. Good luck on your adventure! :)

http://2.bp.blogspot.com/-4FLf8cCYt_A/UBz_MpqwxaI/AAAAAAAABpM/zN-oYph_N8Y/s1600/Never-give-up-444.jpg
 NEVER GIVE UP!

Thursday, May 16, 2013

Unlimited Upgrade Potential


Salmonella typhoon is back!

Ide muncul dengan cepat kali ini saudara-saudara, soalnya gw baru aja namatin game dan jadi ga ada kerjaan lagi. Terus lagi-lagi dari game itu gw dapet ilham. So here we go! Teman-teman pasti pernah kan ngerasa males belajar, tapi kalo lagi liburan tau-tau bosen ga ngapa-ngapain? Yak itulah tema dari magic kali ini. Kira-kira kita bosen karena apa sih? Kalo pada baca post gw sebelumnya pasti dah pada tau, karena adventure udah selesai dan ga ada tantangan lain (baca 'The Wonder of The Adventure' dan 'What does not kill you bla bla bla' di post sebelumnya). Nah hal ini persis terjadi waktu gw main game baru-baru ini. Kalo pada pengen tau nama gamenya 'Far Cry 3'. Inti cerita dari gamenya adalah sekelompok bule lagi main parasut-parasutan gitu, terus mereka mendarat di pulau daerah sekitar Melayu yang ternyata tu pulau merupakan sarang perompak dan mafia yang menjalankan bisnis human trafficking. Nah mereka ketangkep deh, terus si tokoh utama bareng sama kakaknya berusaha kabur. Tapi kakaknya ditembak mati sama pemimpin perompaknya. Jadi kita sebagai si tokoh utama harus bebasin temen-temen kita, menghentikan si mafia, sama membebaskan pulau dari kuasa si perompak. Si hero dibantuin sama penduduk yang menamai diri mereka "Rakyat" (yup ini pasti sama kaya arti kata 'rakyat' di Bahasa Indonesia). Para Rakyat itu ngebantuin si hero dengan cara ngasih 'tatau' (yang ini maksudnya tato) mistik di tangan si hero yang bisa ngasih skill-skill khusus ke dia seiring berjalannya waktu.
http://cdn1-www.playstationlifestyle.net/assets/uploads/2012/12/far-cry-3-review-glider.jpg
http://thegamershub.net/wp-content/uploads/2012/02/far-cry-3-1.jpg 
http://cdn0.sbnation.com/uploads/chorus_image/image/4904483/newuploads_2012_0815_5b4951fa675ed237c31032336e02136f_120815_10am_fc3_screen_sp_leopard_attack_2_gamescom_gallery_post.0_cinema_640.0.jpg 
 Far Cry 3 Screenshots

Serunya game ini berkonsep sandbox, yang artinya kita bebas menjelajah pulau kaya game GTA atau Skyrim. Intinya kaya game first person shooting (artinya kita pake pandangan orang pertama), digabung sama environtment Skyrim versi Indonesia (natural tapi tipe-tipe hutan hujan tropis yang ada pohon pisang dan macan tutul), dan dilengkapi kendaraan-kendaraan kaya di GTA. Terus lucunya di game ini suka diselipin bahasa-bahasa Melayu kayanya, karena mirip Indonesia tapi awkward, contohnya 'Senapan kabawah', 'bangau', dan 'labah-labah'. Voice actornya juga keren banget, apalagi yang jadi kepala perompaknya, tipe-tipe orang gila kaya Joker tapi versi orang Mexico. Tapi yang paling seru tuh karena sepanjang petualangan kita bisa upgrade senjata kita jadi yang lebih canggih, belajar kemampuan-kemampuan baru misalnya berenang lebih cepet, bahkan kita bisa berburu binatang kaya komodo dan burung kasuari terus kulitnya dijadiin tas biar kita bisa bawa lebih banyak amunisi. The concept is freaking cool! Bisa dibilang ya, yang paling seru dari game itu adalah yang namanya 'upgrade'. Rasanya seru kan kita ngebayangin karakter kita jadi lebih kuat biar bisa berpetualang lebih jauh lagi di pulau yang penuh misteri. Dengan pemikiran kaya gitu kita sampe rela nyemplung danau atau nyerang markas musuh buat nyariin harta benda biar bisa dijual terus duitnya dipake buat beli senjata yang lebih bagus.

http://www.teamctf.com/wp-content/uploads/ba7c4_Review_347809.gif

I am ready to plunge myself just for treasure!

Di game ini gw sangat menikmati prosesnya, jadi bisa dibilang game ini merupakan konsep adventure yang ideal lah. Tapi sampe 3/4 dari perjalanan, udah mulai ilang gregetnya. Soalnya saking semangatnya baru 3/4 game semua skill dah gw pelajari dan semua senjata dah kebeli. Jadi ngumpulin duit dah ga guna lagi, orang ga ada yang bisa dibeli lagi. Dompetnya sampe dah kepenuhan padahal dah pake dompet yang paling maksimal dari kulit hiu legendaris pemakan manusia apa dari kulit komodo langka berliur darah tuh gw sampe dah lupa. Jadinya kalo dapet harta benda udah ga seneng lagi, terus petualangannya jadi rada kurang bermakna.

Nah teman-teman, kebayang kan ga enaknya hidup yang terbatas. Makanya banyak orang kaya yang kita ngeliatnya kayanya hidupnya enak banget, apa-apa punya, tapi seringkali mereka cari hiburan yang aneh-aneh karena dah bosen sama hidupnya yang mudah. Jadi dewa belum tentu enak teman-teman, bosan dan kesepian itu perasaan yang paling susah diaturnya. Tapi beruntunglah kita sebagai manusia itu dianugerahi potensi untuk berkembang tanpa batas. Sebanyak apapun yang kita pelajari pasti masih ada yang belum kita pelajari. Misalnya aja belajar science, tiap tahun perkembangan science cepet banget. Dalam waktu 5 tahun aja suatu pengetahuan di bidang bioteknologi bisa udah termasuk ketinggalan jaman. Belum lagi kita sebagai manusia bisa belajar banyak aspek, misalnya musik, olahraga, pengetahuan umum, bela diri, dance, dan sebagainya tanpa batas.

Jadi teman-teman, kalo lagi bosen coba pikirin bisa belajar apalagi, entah itu baca buku, belajar lagu baru, browsing-browsing fun facts, anything. Terus kalo lagi hectic belajar, berbahagialah karena kalian masih stress karena ada kerjaan, bukan stress ga ada kerjaan. Selain itu kalian masih berkesempatan untuk mengembangkan diri. In conclusion, we are granted by God the unlimited upgrade potential. Therefore, use your time wisely and learn as much as you can. Adventurers, get ready and keep upgrading for your upcoming adventures!

http://www.themooreconsortium.com/publishImages/about~~element30.jpg
 I can improve my life!

Sunday, May 12, 2013

Plunge Yourself!

The Magic Sprinkler Rises!

Sudah lama lupa nulis dan karena ditanya sama Master kenapa ga nulis-nulis lagi akhirnya jadi kepikiran deh. Well done, Master... -.- Selain itu ngeliat temen ada yang mulai ngeblog jadi rindu masa-masa menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan. So here we are, I am trying to make the magic sparks again.

Tema kali ini adalah saat-saat di mana kita kehilangan motivasi dan jadi malas melakukan apapun. Penyebab hal kaya gini bisa bermacam-macam misalnya banyak masalah dalam hidup, terkena bencana, atau simply karena masuk comfort zone dan males ngapa-ngapain lagi. Seringkali gw mengalami hal yang kaya gini, terutama sekarang ini saat gw lagi nganggur sampe 2 bulan sebelum nantinya akan memulai lembaran petualangan baru gw. Ngomong-ngomong soal petualangan baru gw, nantikan kisahnya di blog gw edisi "New World" yang gw rencanakan bakal release dalam beberapa bulan ke depan! semoga ._.

Ada banyak cara sebenernya buat ngebalikin motivasi, dan tentunya gw ga bakal mengklaim cara gw sebagai cara paling efektif, jalan emas, atau semacamnya kaya yang suka diklaim sama motivator-motivator terkemuka. Tapi cara ini patut dicoba karena lumayan ampuh buat gw. Sekarang coba teman-teman bayangkan hidup ini bagaikan dunia air. Jadi berenang adalah hal umum yang dilakukan orang-orang di dunia itu. Nah, ceritanya kita udah ada di pinggiran air nih tapi kita belum nyebur. Itulah keadaan di mana kita lagi ga melakukan apa-apa atau saat di mana kita kekurangan motivasi. Alasan kita ga nyemplung kurang lebih karena takut airnya dingin, ada binatang, ga bisa berenang, dan semacamnya. Nah sekarang kita sadar kan, yang namanya 'procrastinating' itu terjadi bukan karena kita males atau ada gangguan-gangguan dalam hidup tapi lebih disebabkan kita takut sama hal yang harusnya kita kerjakan itu. Jadi justru kita mencari-cari gangguan untuk menunda pengerjaan hal tersebut. Teori serupa disampaikan temen gw Audi Tri Harsono saat kita sedang dinner sembari berbincang-bincang tukar pendapat sehabis gym.hahah

 Enter The World of Water

Jadi udah tau kan apa yang harus dilakukan kalo kita lagi kekurangan motivasi? Plunge yourself into the water! Take the first step! Out of your comfort zone! Start working! Apapun pokoknya yang semacam itulah. Pasti awalnya bakal berasa ga enak, kaya gw sekarang ini lumayan berat buat nulis lagi dan berulang-ulang nulis dan ngapus karena udah rada lupa gripnya. Ibaratnya kaya baru masuk ke air pasti kaget sama dinginnya air itu. Tapi setelah itu rasanya mulai biasa dan kita mulai inget lagi rasanya berenang. Lagipula kalo kita ngeliat sekeliling, banyak orang yang udah mulai 'berenang' dan mereka baik-baik saja kan dalam hidupnya. Kalo mereka bisa kenapa kita ngga. So, begitu kita dah berani nyemplung kita tinggal ngucapin ke diri kita sendiri, "Welcome to the world of water!". Setelah itu silakan arungi petualangan kalian di 'dunia air' tersebut!

Tapi gimana kalo kita bener-bener ngeri buat ngambil langkah pertama? Sekarang gw bagi lagi salah satu cara buat memunculkan motivasi. Look at your past self when you achieved some kind of glory. Misalnya kalo kita pengen mulai main basket lagi, inget-inget saat di mana kita main basket paling seru dan kita berhasil bikin tembakan yang spektakuler, atau gol spektakuler di sepak bola. Tadi sebelum nulis gw baca-baca lagi postingan gw di blog ini. Entah ya gw ini termasuk penulis yang bagus apa jelek, tapi sejujurnya gw terkagum-kagum dengan post gw yang sebelum-sebelumnya. Ga tau blog gw ini emang bisa memotivasi orang apa ngga, tapi seengganya gw sendiri termotivasi sama tulisan gw sendiri. Terima kasih Salmonella typhoon the magic sprinkler di masa lalu, siapa sangka magicnya kena diri lo sendiri di masa depan.hahaha Bukan cuma termotivasi, tapi gw juga bingung kok dulu gw bisa kepikiran hal-hal semacem itu. Akhirnya jadi berasa juga kok kayanya kemampuan menurun, tapi menurut gw hal itu ga masalah. You are never too old to relearn. We are biologically wired to get older and weaker over times, but we are spiritually wired to keep burning till the end of our life. Sesuai dengan slogan hidup gw juga "Don't lose hope, just have a little faith." Jangan pernah merasa takut buat memulai sesuatu lagi karena takut gagal atau ga seberhasil dulu. Kalo kita ga mencoba sama sekali, kemungkinannya jadi 0%, ketimbang 0.000000001% sekalipun kalo kita berani nyoba. Jadi gw mencoba memulai nulis lagi dengan kemampuan yang sudah menurun tapi tetap dengan harapan memunculkan postingan yang bagus lagi. Siapa tau gw yang di masa depan butuh baca post gw ini dan makin termotivasi buat mencapai sesuatu dalam hidup. Keren juga ya blog ini bisa kaya mesin waktu.hahaha

So adventurers, do not let an arrow to the knee stop your journey! Be an adventurer like your former self. Keep in mind that no wounds are greater than your spirit. Also remember that relearning is not a backward movement, but a process to build a stronger foundation for our steps ahead. Plunge yourself and see what you can do. Keep adventuring!


Stop pushing!

Monday, December 10, 2012

What Doesn't Kill You Makes You Stronger, What Kills You Makes You Want To Live

The Magic Sprinkler is back!!! (ノ◕ヮ◕)*:・゚✧


Sekarang bulan Desember, post terakhir gw bulan Juli kemaren... Sedih juga perkembangan blognya ._. yah, magic sprinkler does everything the way he wants it. Jadi karena baru sekarang ada niat n kesempatan buat post lagi, ya baru sekarang deh postnya keluar.


Tema kali ini lagi-lagi soal hidup. Diliat dari judulnya, kalo frase pertamanya sih udah pada familiar ya. What doesn't kill you makes you stronger, intinya ga usah takut sama hal-hal yang pada hakikatnya ga bisa membunuh kita, tapi mungkin menyebalkan, menakutkan, bikin deg-degan, menyedihkan, dsb. yang biasanya dihindari orang-orang. Sebenernya dengan melalui hal-hal kaya gitu kita semua bisa jadi lebih tough dan siap buat menghadapi tantangan-tantangan berikutnya dalam hidup.


Terus apa maksudnya kalimat yang kedua, what kills you makes you want to live? Kita liat analogi berikut. Sering kan ada di film-film khususnya film thriller remaja bule yang tipikal banget. Biasanya ada sekelompok anak muda yang lagi liburan atau entah ngapain, tau-tau di tempat itu ada monster/alien/serial killer/godzilla/cacing/uler/hiu/dahak/gumpalan lemak yang kelemahannya shampoo/apalah nama pokoknya bahaya, ,mengerikan, dan menjijikkan. Biasa dah ketebak nih, awal-awal si makhluk ga muncul-muncul tapi kita bisa ngeliat tokoh-tokoh dari sudut pandang monster itu yang lagi mengintai dari balik air atau dedaunan. Terus urutan matinya biasanya demikian:
1. cewe nyolot dan pasangannya (kalo pasangannya cukup hoki dia bakal idup sampe rada akhir terus akhirnya ledakin diri buat balesin dendam si cewenya). Karakter ini harus mati buat pesen moral ke penonton, jangan jadi orang nyebelin.
2. beberapa orang ga penting misalnya ibu-ibu lemah, kakek galak, kacung, orang lewat, penjaga pulau. Cuma buat menunjukkan kengerian si makhluk.
3. orang baik atau jago yang udah lumayan jadi favorit penonton, biasanya mati karena ngorbanin diri demi nyelamatin temen-temennya. Tokoh ini biasanya ada kalo si pasangan cewe nyebelin dah mati dari awal.
4. Akhirnya yang selamat kalo ga bedua ya betiga. Yang pertama si tokoh utama yang mukanya protagonis banget dan budinya baik, ditemani oleh pasangannya cewe yang paling lumayan di antara semuanya dan juga baik hati dan pemberani (entah kenapa mukanya suka tua banget, karena bule kali ya), terus kalo ada 1 lagi pasti temennya si tokoh utama yang culun tapi loyal.

Sebenernya yang gw ceritain di atas ga ada hubungannya sama tema kali ini sih, tapi pengen nulis itu aja. Inti dari analoginya adalah, biasanya sekumpulan orang-orang yang survive di film-film itu bakal makin menghargai hidup. Manusia itu aneh, waktu dalam keadaan aman bosen idup, tapi begitu dah terancam maut jadi pengen tetep idup. Tapi itu bener, dan ga cuma manusia yang kaya gitu. Dulu waktu gw magang di Pusat Studi Satwa Primata Bogor, diceritain sama dosen pembimbingnya kalo monyet dari spesies yang cukup pinter bakal cepet bosen. Kalo mainan yang dikasi ke dia kegampangan, monyet itu bakal stress gara-gara bosen sama hidupnya dan mulai cabutin rambut di badannya sendiri. Sedangkan monyet yang bego bakal anteng sama tu mainan jadi ga stress. Makanya waktu itu salah satu temen gw ada yang stress karena merasa bosan, gawatnya lagi filosifi hidup dia adalah "only boring people get bored". Jadi karena dia bosen, dia ngerasa dia udah berubah jadi orang membosankan. Makin stress dah tuh sukurin. Gw waktu itu langsung ceritain tentang monyet-monyet tadi, dan gw bilang tenang aja karena selama ini dia tu bego makanya ga bosen-bosen dan sekarang bosen karena dah mulai pinteran. ahahaha

Kembali ke monyet pintar tadi yang udah stress mau cabutin rambut. Misalkan tu monyet tiba-tiba kita kasih monyet jahat yang suka gebukin n mau ngebunuh dia. Tu monyet pasti secara naluri bakal ngelawan balik atau kabur. Pokoknya tiba-tiba dia jadi pengen idup lagi. Itu juga yang terjadi sama manusia. Manusia begitu ketemu maut baru deh menyadari kalo hidupnya berharga. Tapi yang gw maksud dengan judul tema kali ini juga not exactly like that. Mulai kesel ya intinya ga muncul-muncul, malahan dikasi cerita-cerita ga jelas? ahahahaha sabar ya... Kembali ke judul yang pertama, sebenernya apa sih yang masuk kategori "what doesn't kill you"?  Kalo secara harafiah gampang, yang ga menyebabkan kita mati beneran. Jadi kalo ketemu masalah yang ga bikin kita mati kita pasti dapet experience dan leveled up, jadi makin kuat, tahan banting, lincah, pinter, hoki, tepat sasaran (ini mah stat RO -.-"). Jadi jangan cepet cengeng kalo dapet masalah-masalah, karena masalah itu ada buat ngelatih kita jadi lebih kuat. But all of that are easier said than done, bener ga sih hal-hal kaya tugas banyak, masalah dengan orang lain, masalah akademis, kerjaan, dan lain sebagainya yang stressful ga bikin kita mati? Buktinya banyak orang yang dengan masalah-masalah gitu jadi stress, hidupnya kacau, dan akhirnya sampe bunuh diri. Those things are killing us, whether you accept it or not. Dulu waktu semester 4 karena banyak lab sampe harus masuk dari jam 6 pagi sampe 8 malem, dah gitu pulang tugas numpuk, dan tidur jadi ga karuan paling sehari cuma 3-4 jam, alhasil gw jadi emosional, gampang sakit, makan ga enak, dan tiap mau tidur tiap 5 menit kena sleep paralysis. Horrifying! Akhirnya banyak orang beranggapan kalo hidup tanpa masalah itu enak.

Tapi bener ga sih hidup tanpa masalah itu enak. Sekali-sekalinya saya katakan tidak demikian! Gaya bahasanya nginjil banget dah... Beberapa analogi lagi, banyak veteran perang yang merasa hidupnya jadi kurang greget lagi setelah perang selesai dan mereka ga bertugas lagi. Seringkali kalo mereka berkumpul yang mereka bicarakan adalah masa-masa di mana mereka berjuang di pertempuran. Anak-anak fakultas gw jg gitu, dulu waktu ikut OB pasti ngerasa eek banget ni kakak-kakak kelas sok galak dan nyiksa gini lagi. Tapi topik OB itu ga akan ada abisnya buat diomongin bahkan sampe 100 tahun lagipun, karena udah jadi kenangan manis di benak semua pesertanya. Ada lagi contoh dari temen gw, dia dulu sibuk banget di organisasi univ sampe tiap hari pulang malem buat rapat, ngerjain ini itu, ngurus undangan rapat ke seluruh univ, menghadapi banyak penolakan, sampe harus menghadap ke leluhur univ buat minta perijinan dan sebagainya. Waktu ngerjainnya kayanya stress banget hidup temen gw itu, apalagi ditambah dia ngurus skripsi dan juga les bahasa. Beberapa bulan kemudian pas gw ketemu dia lagi, saat itu dia dah lulus dan dah resmi non-aktif dari organisasi di univ tersebut, secara mengejutkan dia ngomong gini, "Bingung gw sekarang ga ada yang gw kerjain lagi, tiap hari ga tau harus ngapain. Rasanya jadi kaya keilangan tujuan hidup. hahaha (hahaha nya miris gitu)". Hal yang sama juga terjadi sama gw sendiri. Beberapa bulan ini kerjaan jadi sibuk sampe bikin gw kesel, tiap hari ada aja yang ngerecokin sampe tugas utama juga hampir-hampir terbengkalai. Jadi merasa kaya pemadam kebakaran yang harus memadamkan api yang mendesak untuk dipadamkan, tapi tugas utama gw justru terbengkalai. Rasanya emosi banget tiap ada meeting dadakan sama tugas ga penting yang ga ada impact apa-apa buat semua orang kecuali buat yang minta tolong. Karena gw orang hebat (hasiik), tiba-tiba semua tugas tersebut kelar termasuk kerjaan-kerjaan utamanya dan tiba-tiba jadi ga ada kerjaan. Terus tiba-tiba gw merasa jadi males masuk kerja, waktu rasanya berjalan lambat banget, dan rasanya pengen OTL di meja kantor. Maka lahirlah post ini, karena gw masih punya tujuan untuk membagi pemikiran-pemikiran yang gw punya ke kalian semua, yang mudah-mudahan bisa membantu dalam hidup kalian semua. :)

Jadi, hidup tanpa masalah bukan berarti menyenangkan juga. Masalah-masalah yang muncul justru jadi challenge buat kita semua, buat menempa kita semua (makes you stronger), dan membuat kita jadi punya semangat untuk hidup dan punya goal-goal yang ingin kita capai (makes you want to live). Tapi balik lagi yang harus kita nikmati bukan goal-goalnya, tapi prosesnya, petualangannya (kembali ke post pertama "The Wonder of The Adventure"). So be happy those who are still challenged by God in their life, because that is a proof that God still has plans for you. Brace yourself, follow the objectives, and make God's secret plans be revealed in you. Happy struggling! (•̀ω•́ )ゝ✧

Because in my blog motivational picture is already too predictable, here's a cat


What doesn't kill you makes you dying or permanently disabled

Monday, July 16, 2012

God Loves Commoner

Styphoon is back! (ノ◕ヮ◕)*:・゚✧ Satu post dalam satu bulan, what a productive writer I am ._.
Yah untungnya masih ada post baru yang bisa dibaca di blog ini deh. So, enjoy the post! :D

Tema kali ini berhubungan banget sama keadaan yang sering gw alami dan rasakan, terutama karena gw tipe darah A yang perfeksionis, dicampur dengan sikap tipe darah O yang bernilai seni (at least ini kata psikolog). Alhasil gw menjadi orang yang perfeksionis tapi malas memulai sesuatu, karena semua yang gw kerjain harus bagus setidaknya menurut penilaian gw. Jadi kalo gw ga yakin bisa bagus mending ga usah gw kerjain.

Sikap gw barusan berdampak juga pada saat gw memandang diri sendiri. Menurut gw, gw adalah orang yang terlalu common dan ga ada special ability. Biarpun nilai pelajaran bagus, tapi dalam hal-hal lain gw adalah orang biasa-biasa saja. Gw dah coba melakukan berbagai aktivitas dengan hasil yang biasa-biasa banget. Main futsal iya tapi sama sekali ga jago, cuma sebates bisa main, main basket juga begitu, malah kemampuan makin lama makin turun, catur (yang umum maupun jepang) cuma pernah coba, berenang sebates bisa, main gitar pas-pasan, bela diri tapi badan kaku (sok-sokan ikutnya taekwondo lagi), dance juga cuma senang-senang doang (baca: ikut body jam di gym). Perasaan serba biasa ini juga gw rasain bukan cuma di special ability tapi juga di jalan hidup. Gw belom pernah menorehkan prestasi luar biasa, hidup datar-datar aja mulai dari masuk TK, SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, Semuanya serba stagnan dan bisa dibilang kurang menghasilkan apa-apa. Prestasi terbesar cuma juara 2 gitar solo di Bogor, sama juara 1 FTb Games Futsal 1 kali dan Basket 2 kali. Perlu diingat fakultas gw kecil jadi juara 1 dari total peserta 4 angkatan aktif.

Itulah keadaan yang gw rasakan, cuma jadi mur atau baut kecil yang kalo ilang juga gapapa. Bisa digantikan dengan mudah, atau bahkan ilang pun ga ada efek apa-apa sama mesinnya. Beda dengan orang-orang yang stand out banget, berhasil banget, yang udah kaya motor dari mesin. Punya hidup yang berarti dan dibutuhkan banyak orang. Sometimes I feel that life is very unfair.

Tapi sebenernya, perasaan kaya gitu cuma bentuk dari sikap childish dan ga pernah puas yang biasa dimiliki semua orang. Gw selalu melihat ke atas, ada orang-orang yang berhasil dan jadi orang penting sedangkan gw masih biasa-biasa aja. Tapi kalo gw coba liat ke bawah, banyak orang yang bahkan ga ditakdirkan buat jadi baut terkecil dari sebuah mesin sekalipun, mereka bahkan harus struggle buat hidup. Ga ada kesempatan buat sekolah, ga dapet modal dasar buat kerja kaya kerjaan yang gw dapet sekarang ini. Bahkan, banyak juga orang yang ga punya orang-orang di sekitarnya yang bisa ngedukung dia dan share love sama dia. If they are still struggling to live, how could I complain about my life?

Keadaan yang gw jabarkan di atas juga bisa disimak di gambar berikut ini. Kalo ga salah nama piramid di bawah ini adalah Abraham Maslows' Hierarchy of Human Needs.


Abraham Maslows' Hierarchy of Human Needs

Piramid ini menjelaskan bahwa semakin dasar letak dari kebutuhan, maka semakin mendasar pula kebutuhan tersebut untuk dipenuhi. Setelah kebutuhan tersebut terpenuhi, baru manusia merasa perlu memenuhi kebutuhan di level selanjutnya. Contohnya nih, manusia kan butuh makan dan minum, tanpa makan minum manusia pasti mati dalam beberapa hari. Jadi selama kebutuhan itu belum terpenuhi, manusia bakal mati-matian cari makan dan minum, dan ga bakal mikirin kebutuhan lain yang ga mendesak seperti kasih sayang, prestasi, dan sebagainya. Boro-boro mikirin prestasi, prestasi ga guna kalo akhirnya mereka mati gara-gara keabisan makan kan.

Ternyata kalo diliat-liat dari piramid ini, gw termasuk orang yang udah berada di tengah-tengah piramid. Kenapa? Sebelum diliat dari apa yang udah gw punya, hal tersebut udah bisa dijawab dari apa yang gw rasakan, gw pengen berarti dan punya prestasi. Berarti hal-hal di bawah itu udah terpenuhi sampe gw bisa mikirin hal yang lebih ga vital daripada itu. Thanks God! :)
Jadi pembaca sekalian, kalo kalian merasa hidup ga berarti karena kalian belum menorehkan sesuatu yang hebat dalam hidup atau kalian merasa ga bisa apa-apa, coba liat lagi deh ke piramid itu, maka niscaya kalian akan kembali mensyukuri hidup. Ketiadaan prestasi bukan alasan untuk tidak menikmati hidup, tapi sebagai motivasi buat kita untuk berusaha lebih keras dan mencoba lebih. Menjadi baut kecil pun bukan hal yang menyedihkan, karena sekecil-kecilnya baut pun akhirnya tetep dibuat dan tanpa baut itu kondisi si mesin ga akan 100%. God loves commoner, because He makes commoner the most abundant in this world. :D

Kita juga ga perlu iri dengan orang-orang yang punya kelebihan, karena kita punya bagian masing-masing dalam hidup. Sebagai contoh gw mau nunjukin hasil karya salah satu temen gw yang menakjubkan.

Surreal Biology by Vincentacent

Gambar menakjubkan yang bertema biologi ini dibuat sama temen fakultas gw yang nama samarannya Vincentacent di Devian Art. Galeri karya-karya dia bisa diliat di  link ini:
http://vincentacent.deviantart.com/gallery/
Kalo diliat-liat si Vincentacent ini anaknya kalem-kalem biasa aja gitu, kalo dah kenal jadi gila ga jelas suka jongkok-jongkok ngakak aneh banget deh. Tapi ternyata, dia punya kelebihan luar biasa juga yaitu bikin gambar super detail dan rapi yang ga abis-abis buat diliat. Magnificent ability! Coba deh bayangin kalo semua orang bisa gambar kaya dia, udah ga seru lagi kan. Ga fair juga buat si Vincentacent yang udah berjuang buat bikin gambar ini kalo Tuhan ngasih kemampuan yang sama ke semua orang. Oh iya, anak ini juga jago main futsal loh.

 
Vincentacent
 
Satu lagi contoh, guru blogger gw pernah bilang kaya gini, "Kalo semua orang kaya gw pasti dunia lebih bahagia." Sorry to say master, you were wrong. Kalo semua orang jadi kaya dia, mungkin hal-hal fun yang dia sebar selama ini bakal jadi biasa-biasa aja dong. Lagian ga kebayang orang sesantai dia memimpin negara -.-"
So, everyone is special by his own way and has his own place in this world. So enjoy your life and don't forget to assemble yourself into the machine where you are needed!

Sebagai penutup ada satu kisah lagi yang disadur dan diadaptasi dari film Shaolin:

Seorang guru Shaolin bertanya kepada muridnya yang sedang meragukan dirinya yang biasa-biasa saja. Guru itu bertanya kepada muridnya, "Wahai murid, manakah yang lebih berharga di antara sebongkah tanah dan sebongkah emas?" Muridnya menjawab, "Tentu saja emas yang lebih berharga dibanding tanah Guru, mengapa Guru bertanya?" Sang Guru pun tersenyum dan berkata, "Kalau begitu apakah kamu bisa menanam tanaman di atas emas? Apa jadinya kalau tidak ada tanah di dunia ini?"

Whoever you are, you are precious in front of the Ultimate Maker. Have a wonderful life! :)

Tuesday, June 12, 2012

Traveling Light


Post pertama di bulan Juni 2012, akhirnya sempet lagi buat update gara-gara urusan sana sini dan ada mainan baru yang bikin ga sempet-sempet nulis. Topik kali ini sebenernya sebagian besar dah jadi dah dari lama-lama tapi baru sekarang bisa direalisasikan dalam bentuk tulisan. Judul kali ini adalah sequel selanjutnya dari "The Wonders of The Adventure" dan "Set The Clock". Buat yang udah baca pasti kira-kira dah tau kalo isinya menyangkut sikap-sikap positif dan tips-tips dalam menghadapi hidup yang gw sebut dengan "adventure". Buat yang belum baca edisi-edisi sebelumnya, silakan diliat di blog ini, nyarinya masih gampang karena kebetulan postnya baru 4 bidji. Okay, enjoy the post :)

Secara harafiah traveling light berarti kita melakukan perjalanan dengan bawaan yang relatif sedikit dengan keuntungan pergerakan kita jadi lebih leluasa dan mungkin bisa mencapai jarak tempuh yang lebih jauh. Tentunya traveling light di sini lagi-lagi adalah kiasan yang gw buat untuk menggambarkan sikap yang positif dalam melakukan perjalanan hidup. Untuk ngejelasin topik kali ini gw akan pake perumpamaan game lagi. Belum lama ini gw lagi getol-getolnya main The Elder Scroll V: Skyrim. Game yang sangat laku di pasaran ini bertema tentang petualangan jaman-jaman pedang dan sihir berkonsep sandbox. Konsep sandbox maksudnya dibanding game-game pada umumnya di mana pemain harus ngikutin alur cerita yang udah diplot dan level-level yang udah pasti, di game sandbox kita bagaikan jadi orang yang bebas. Kita ga harus langsung ngikutin alur cerita utama, kita bebas mau pergi ke kota manapun, berinteraksi sama orang apapun, jadi pembela kebenaran, penjahat, penyihir, manusia serigala, vampire, pembunuh bayaran, dan sebagainya. Konsep game yang sangat-sangat bebas ini bikin seri Elder Scroll ini merupakan brand game yang sangat laku kaya game-game sejenisnya contohnya seri Grand Theft Auto. OK cukup penjelasan gamenya karena ga gitu penting buat analogi yang mau gw ceritain.


The Elder Scroll V: Skyrim

Nah waktu lagi main Skyrim, keluarlah sifat tipe darah A gw. Gw berpikir pokoknya semua barang-barang yang ada di rumah harus dibawa, panah, pedang, perisai, pedang gede, armor anti sihir, armor tebal, armor ringan. Pokoknya gw ga mau waktu lagi di dalem goa-goa tiba-tiba diserang makhluk aneh terus kurang persiapan. Alhasil majulah gw ke medan pertempuran dengan bawaan super banyak kaya pas jaman SD, harus bawa buku cetak, buku catetan, PS, dan PR, akhirnya jadi empot-empotan bawa ransel. Untung ga sampe bongkok jaman dulu, tapi sempet sampe berobat ke sinseh si, dipijit sampe sakitnya sekambing-kambing. GARA-GARA RANSEL! (#`Д´)σ
Ternyata ya... Namanya orang kan pasti cuma pake 1 senjata andalan, karakter gw pakenya pedang di masing-masing tangan. Mau musuhnya deket, jauh, pake sihir, pake panah, tetep aja gw samperin dan gebugin sampe kapok. Baju pelindungnya juga mau anti sihir kek, ringan, nambah kemampuan dsb, akhirnya yang gw pake cuma 1 set yang paling bagus. Intinya barang-barang yang gw bawa banyak-banyak ga kepake! Udah gitu sampe goa-goa kan banyak harta benda tuh Karena gw dah keburu bawa barang berlebih dari awal berangkat, akhirnya cuma sedikit harta yang bisa diambil. Banyak barang yang bisa dijual mahal akhirnya harus ditinggal gara-gara keberatan. Akhirnya gw harus bolak-balik buat ngangkutin harta dan buang waktu banyak banget OTL


TESV Treasure.png
If only I could take them all


Akhirnya di kesempatan lain gw coba buat bawa barang seperlunya aja, 1 set baju pelindung yang dipake aja, 1 senjata andalan, dan obat-obatan secukupnya. Setelah itu gw pergi ke goa-goa lagi. Ternyata kemampuan gw ga berkurang dibanding bawa barang selengkap-lengkapnya karena gw punya baju pelindung dan senjata andalan, kalo misalnya babak belur pun obatnya masih cukup. Terus semua harta yang ada di goa itu bisa gw jarah tuntas sampe sekeping-keping koinnya. Gw pergi dengan bawaan minim, pulang gemuk dengan harta benda! \(•˚˚•)/


TESV Nightingale Armor Male.png
  This time I am traveling light

Dari analogi di atas bisa kita liat dalam berpetualang itu bakal banyak kesempatan buat si petualang mendapatkan hal-hal baru. Tapi kalo si petualang itu udah keberatan sama barang bawaannya sendiri, bukan aja dia jadi ga enjoy dan ga bebas bertualang tapi juga dia cuma bisa dapet sedikit hal-hal yang baru. Sama dengan kita dalam perjalanan hidup. Seperti yang gw bilang sebelumnya, traveling light ini bukan secara harafiah di mana kita ga boleh bawa barang banyak-banyak, tapi lebih ke arah beban pikiran yang kita bawa. Tapi serius deh beban secara fisik juga mending jangan banyak-banyak kaya ransel jaman SD dulu, sakit punggung loh ntar (o'_'o)

Biasanya orang itu hidup dengan membawa banyak beban pikiran, contohnya adalah gw sendiri. Seperti yang udah gw sebutin di post sebelumnya, gw juga masih berusaha melalui jurang menuju tujuan dan juga lagi berusaha menikmati petualangan gw. Beban pikiran di sini bukan cuma stress dan kecemasan, tapi juga pikiran-pikiran seperti rasa sombong, sok tau, merasa udah jago, atau pikiran takut keluar dari zona aman. Semua pikiran di atas adalah beban-beban yang secara sadar ga sadar kita bawa ke mana-mana dan mengganggu proses belajar kita. Misalnya aja kita punya sikap sok tau, terus begitu dikasih tau sama orang kita merasa ga perlu denger karena kita merasa dia lebih ga tau dari kita. Eh ternyata tu orang tau lebih banyak dan dia cuma ngejelasin dari awal aja karena ga tau kalo kita udah tau sebagian. Akhirnya kita jadi ga dapet ilmu baru yang seharusnya udah kita dapet kalo aja kita ga terbeban sama pikiran sok tau kita.

Banyak orang-orang terkenal juga udah membicarakan hal yang sama dengan gw. Berkat orang-orang hebat itulah gw bisa nulis post ini. Orang-orang itu antara lain Paulo Coelho dari buku The Zahir (isi jelasnya rada-rada lupa tapi intinya dia bilang, "lupakan hal-hal lain tidak penting dalam hidup selain beberapa hal yang harus kau ingat seperti beberapa nomor bank dan rute pulang ke rumah.") dan Steve Jobs dengan kutipan terkenalnya "stay hungry, stay foolish". Sekarang kita tau kira-kira kenapa mereka bisa berhasil dalam petualangan mereka. Ninggalin beban-beban pikiran itu ga ada ruginya, karena yang akan hilang cuma hal-hal yang menghambat kita sedangkan pengalaman dan kebijaksanaan kita akan tetep ada di dalam diri kita. Sama halnya dengan 1 set baju pelindung dan pedang andalan yang dibawa ke mana-mana sama karakter gw di Skyrim, alat yang sangat membantu tapi ga membebani. Kalo pikiran itu membebani, berarti pikiran itu ga ada gunanya. So it's your choice to carry it along or leave it in the chest. :)

In the previous session I told you to set the clock and enjoy the journey, now I suggest you to leave everything that encumber you and make yourself ready for the excitement ahead! Happy traveling!


Thursday, May 24, 2012

Set The Clock



Akhirnya sempet lagi nerusin nulis blog. Ternyata blogging itu susah juga ya, kaya ke gym. Kalo kelamaan ga ngepost bakalan males seterusnya, harus diniatin lagi. Ok kalo gitu gw bakal lanjutin dengan sequel dari "The Wonder of The Adventure", dengan tema kali ini adalah "Set The Clock". Jam apa yang dimaksud di sini? Apa hubungannya sama adventure yang dibicarakan sebelumnya? Di post ini bakal gw jelasin semuanya.

Pertama-tama gw awali dengan keadaan gw dari masa kecil sampe sekarang. Dari lahir, gw adalah tipe orang yang sangat sangat ga punya motivasi. Waktu balita masuk playgroup cuma bertahan sebulan karena ga betah dengan lingkungan yang asing dan takut sama anak lain. Masuk TK uring-uringan karena sering berantem sama temen dan dimarahin guru, akhirnya setiap masuk pake ngamuk-ngamuk, nangis-nangis, dan harus digendong masuk kelas. Waktu SD sering males dan pura-pura sakit biar ga masuk sekolah dan bisa main PS aja di rumah. Waktu SMP di saat orang-orang mulai masuk ekskul basket dan sebagainya, lagi-lagi gw berenti dari ekskul itu karena selama ekskul cuma dikata-katain gara-gara badan gw yang kecil. Di SMA coba masuk basket lagi tapi lagi-lagi kalah bersaing sama temen-temen yang jauh lebih tinggi dan beralih ke ekskul catur Jepang (atau biasa disebut Go). Di situ juga ga bertahan lama karena harus masuk ekskul yang diakui sama sekolah buat nilai di raport. Sempet kabur ke ekskul kimia biar ga usah cape-cape dan tetep dapet nilai. Akhirnya masuk ekskul taekwondo dan bertahan cukup lama, sampe gw lulus SMA. Tapi sekarang lagi-lagi dah ga gitu kepake selain kalo harus berantem mungkin. hahaha

Begitulah keadaan gw dari kecil, sangat-sangat ga punya motivasi dan ga mau keluar dari yang namanya comfort zone. Dari TK sampe SMA juga masuk sekolah yang sama karena dari awal udah didaftarin di situ sama orang tua. Untungnya sekolah itu termasuk sekolah top di kota gw jadi bukan jalan yang salah jg gw bertahan di sekolah itu. Walaupun sebenernya dalemnya ga seindah penampakan dari luar. Masuk kuliah juga bener-bener frustasi karena di saat temen-temen dah masuk univ lewat jalur PMDK, gw malah ga tau mau masuk jurusan apa dan berakhir ikut-ikutan temen daftar PMDK teknik kimia. Akhirnya gagal lagi, waktu itu sampe frustasi. Untungnya ga masuk teknik kimia, karena baru sadar gw ga gitu suka kimia. Setelah beberapa kali konsultasi bakat sama psikolog (yang sempet disasarin disuruh jadi arsitek padahal gw lemah sama yang namanya keterampilan), ngikutin saran keluarga, dan pertimbangan dari nilai raport (waktu itu gw paling bisa biologi berkat guru yang sangat hebat dan sampe saat ini guru itu adalah satu-satunya guru sekolah yang gw merasa beruntung banget diajar sama beliau), akhirnya gw memutuskan untuk masuk jurusan teknobiologi lewat jalur ujian. Kali ini berhasil lolos dengan gemilang \(•˚˚•)/

I don't want to go out of my comfort zone! (‾^‾)

Keadaan kaya gini terus berlanjut semasa gw kuliah, gw ikut-ikutan temen daftar Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), karena di antara temen-temen gw yang ga daftar tinggal gw doang. Waktu itu takutnya malah jadi ga ada temen kalo mereka semua sibuk ikut-ikut kegiatan. Tapi yang terjadi adalah... di antara temen-temen gw cuma gw yang kepilih masuk BPM!!!(۳ ˚Д˚)۳ Di situlah pertama kalinya gw ngelakuin sesuatu sendirian. Tapi gw tetep jadi orang yang masih terikat dengan comfort zone. Sampe suatu ketika gw lagi ngobrol-ngobrol sama temen gw si blogger handal yang gw mention di post sebelumnya, di situlah gw mulai berubah. Seriously, walaupun ni temen satu sangat-sangat bertolak belakang sama gw, tapi ni orang termasuk orang yang sangat mengubah hidup gw. Mungkin kalo diibaratkan kita itu bagaikan Shinichi Kudo dan Heiji Hattori. Punya style yang beda tapi tetep berteman. Waktu itu sebenernya lagi ngomongin soal ayat Alkitab, tapi ada pelajaran yang bagus dari yang dia ceritain ke gw. Inti dari ayat yang dibahas adalah: "Kalo mau masuk Kerajaan Surga, harus ngelakuin 2 hal: yang pertama adalah melepaskan semua keinginan duniawi (tentang ini ada pelajaran yang bagus juga dan mungkin akan jadi topic post gw selanjutnya), dan yang kedua adalah KELUAR DARI COMFORT ZONE"

DUAR!!! Di sini dunia gw bagai terguncang. Gw pikir-pikir dari dulu gw adalah anak yang sangat pengecut, kalo kata si blogger itu istilahnya coward bastard. Di sini bukannya gw menekankan soal masuk Kerajaan Surga, iya sih gw jg mau dan sedang berusaha menuju ke sana, tapi pelajaran yang bisa diambil di sini sangat general dan harusnya bisa diterapkan dalam hidup. Setelah gw renungkan, gw sadar kalo gw jarang banget yang namanya keluar dari comfort zone. Comfort zone di sini bukan maksudnya comfort secara fisik, tapi lebih ke comfort perasaan. Gw jarang banget ambil keputusan sendiri, selalu ikut perintah orang tua, takut tampil sendirian, ga punya motivasi, dan selama ini ngelakuin kerjaan cuma berdasarkan ketakutan akan hukuman misalnya ngerjain tugas dan beresin rumah. Hidup gw kaya robot, hidup untuk diperintah orang lain sampe hari di mana gw berhenti bergerak. Mulai dari sini gw selalu mencari-cari motivasi dalam hidup. Tapi perjuangan gw mencari motivasi dalam hidup itu ga instan, gw baru dapet motivasi hidup belakangan ini. Jadi gw bukan motivator-motivator yang kisah hidupnya udah sukses, gw adalah orang yang juga lagi berjuang untuk mencapai kesuksesan tersebut. Jujur aja gw kurang termotivasi sama yang namanya motivator, karena mereka cuma menunjukkan jalan menuju sukses, tapi ga membimbing yang dimotivasi untuk melangkah di jalan yang mereka tunjukin itu. Ya sebenernya wajar sih, karena mereka kan sibuk dan ga mungkin perhatiin orang satu-satu. Mungkin juga gw yang terlalu manja jadi minta dibimbing. Tapi itulah sejujur-jujurnya yang gw rasakan, nasib si motivator itu lebih beruntung daripada orang-orang lain dan mereka ga berada di dunia yang sama dengan kita. Mereka itu bagaikan orang yang berada di seberang jurang yang mau kita lewatin, dan mereka cuma teriak-teriak dari seberang sana ngasih tau kita gimana caranya nyebrangin jurang itu. Tapi dia sendiri tetep di seberang sana udah menikmati hasil dari dia nyebrangin jurang itu. Kayanya udah ga gitu peduli sama yang mau nyebrang, mau jatoh kek, bisa nyebrang juga kek, pokoknya dia udah coba nyebrang dan bisa. Lain dengan yang dilakukan kepala sekolah les IELTS yang gw ikutin baru-baru ini (bagi yang ga tau apa itu IELTS, semacam les inggris gitu lah). Dan yang diajarkan sama si kepala sekolah inilah yang ternyata bisa memberi motivasi dalam hidup gw.

 
They said that this is the way, but where are they?

Nama si kepala sekolah tempat les ini adalah Mr. Clay. Penampakannya kira-kira mirip sama Samuel L. Jackson tapi dengan versi badan kaya tentara US Navy, lebih gede gitu deh. Di hari terakhir gw les dia memberikan pelajaran yang sangat di luar dugaan, yaitu sesuai dengan topik kali ini "Set The Clock"
Di sesi yang singkat itu dia minta semua peserta les buat ngejawab 4 pertanyaan yang selalu dia ajukan di kelas-kelas yang dia ajar. Pertanyaannya adalah sebagai berikut:
1. What do I want?
2. Why do I want it?
3. When do I want it?
4. How to get it?

Pertanyaan yang simple dan kesannya biasa aja ya.:)
Pertanyaan-pertanyaan di atas itu adalah template buat nentuin tujuan hidup kita, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Waktu itu Mr. Clay minta kita isi pertanyaan-pertanyaan itu dengan jawaban soal travelling, karena Mr. Clay bilang ga ada pengalaman yang lebih menyenangkan dari travelling (ternyata Mr. Clay ini adventurer juga, bahkan master adventurer yang pengalaman keliling dunianya udah banyak banget). Di sini gw bilang Mr. Clay bukan motivator, tapi master. Dia membimbing murid-muridnya satu-satu untuk mencapai apa yang dia udah capai. Selama kita nulis jawaban pertanyaan itu dia nanyain kita satu per satu apa yang kita tulis dan dia kasih tau tanggapan dia sekaligus pelajaran yang bisa dia sampaikan dari jawaban kita itu. Ibaratnya Mr. Clay ini udah pernah nyebrangin jurang, dan dia BALIK LAGI KE AWAL cuma untuk menjemput orang-orang lain dan dia bimbing orang-orang itu buat mencapai hal yang sama dengan yang dia udah capai. Dia mau balik lagi karena dia ngerti perasaan orang-orang yang lagi berjuang, persis sama dengan apa yang dia alami waktu dia masih berjuang untuk lewatin jurang itu pertama kalinya.
Buat contoh, jawaban gw buat pertanyaan-pertanyaan waktu itu adalah:
1. Waktu itu pertanyaan no 1 dispesifikasi jadi gw mau ke negara apa. Gw jawab Australia.
2. Di sini Mr. Clay cerita kalo alasan orang pergi secara umum adalah: mau liat sesuatu yang baru, mau keluar dari negara asal, dan mau studi. Tujuan utama gw adalah mau studi, tapi ditambah juga cari pengalaman ke luar negeri dan sejenak keluar dari sumpeknya Jakarta. Jadi bisa gw bilang kemauan gw ke Australia ini cukup kuat, sesuai dengan tujuan dari pertanyaan no 2 ini. Sebenernya pertanyaan ini buat nanya ke diri kita sendiri, kemauan kita itu bener-bener kuat ga, karena ini tujuan hidup.
3. Nah, pertanyaan ketiga ini yang paling krusial, kapan kita mau tujuan kita tercapai? Kenapa krusial? Karena langkah pertama itu yang paling berat, saat yang bikin orang jadi males keluar dari comfort zone. Sama kaya halnya mandi air dingin, pertama-tama pasti kaget. Dengan kita jawab kapan mau tujuan kita tercapai, mau ga mau kita bakal mulai jalan. Bukan karena takut hukuman kaya yang terjadi sama gw selama ini, tapi karena ada harapan pada waktu yang udah kita tentukan nanti tujuan kita bakal bener-bener tercapai. Reward terhadap diri sendiri, dan kita yang bertanggung jawab sama waktu yang kita tentukan tersebut. Kalo misalnya berhasil berarti kita udah bertanggung jawab sama komitmen kita ke diri sendiri, kalo misalnya gagal pun bakal jadi pelajaran buat diri sendiri juga. Inilah yang dimaksud dengan 'SET THE CLOCK'! Oh iya, set waktunya itu secepet-cepetnya yang kita mau tapi masih mungkin kita lakukan. Setelah kita yang ada di kelas itu jawab pertanyaan itu, si Mr. Clay bilang: "Allright, now everybody is on the clock! Now get movin and reach your goal! Don't forget to send me postcard when you get there." Di sini si Mr.Clay juga 'set clock' buat diri dia sendiri. Jadi saat ini kita yang ada di kelas itu lagi ada di jam kita masing-masing. Oh iya, jawaban gw buat pertanyaan ketiga ini adalah: June 2013. Doakan gw berhasil ya :)
4. Yang keempat ini kita semua udah tau lah, langkah-langkah apa yang harus dicapai buat bisa ke sana. Kalo gw adalah dengan cari beasiswa buat S2 atau kalo bisa langsung S3 di sana. Sekarang lagi proses apply, semoga berhasil juga. XD Buat yang ga tau harus gimana di langkah ini, bisa mulai dengan jalan yang sama kaya gw, cari beasiswa buat studi, atau yang lebih simple coba aja liburan ke tempat tujuan itu. Cara lain bisa juga tanya-tanya ke master-master yang kita kenal misalnya dosen pembimbing, guru les semacam si Mr. Clay ini, atau temen yang udah pernah ke sana. Banyak jalan buat mencapai tujuan, dan tujuan itu terbuka lebar setelah kita udah menjejakkan langkah pertama.



Yak, seperti yang udah gw bilang bahwa gw juga baru aja dapet tujuan hidup ini. Kira-kira baru taun ini deh, dan Mr. Clay udah ngebantu gw buat nentuin jam gw sendiri. Sekarang gw akan coba nyebrangin jurang buat sampe ke tujuan, dan gw ngajak para pembaca buat sama-sama gw nyebrangin jurang kita masing-masing. Atau kalo memang belum bisa nentuin kapan bakal nyebrangin jurang itu, gw akan tunggu kalian semua di seberang sana, atau bahkan gw akan balik lagi buat jemput kalian kalo gw bisa. Soalnya gw jg belum pernah nyebrang nih.hehe Bagi yang masih struggling buat nentuin tujuan hidup, it's okay. Justru pergumulan yang lagi dialami itu pertanda baik. Artinya dari dalem diri kalian sebenernya dah ada perjuangan buat keluar dari comfort zone. Artinya kalian udah satu langkah lebih maju buat sampe ke tujuan kalian. Seperti kata-kata dari penulis favorit gw Paulo Coelho, "Pergumulan dalam diri adalah pertanda baik terutama saat kita udah memenangkan pergumulan tersebut." Dan juga jangan takut buat ambil langkah pertama, walaupun bisa aja kita gagal. Mengutip lagi dari kata-kata yang kali ini dari salah satu manga favorit gw Eyeshield21. Di situ salah satu tokohnya bilang, "There's nothing like I can't catch it, there's only I couldn't catch it." Artinya kita baru bisa bilang ga bisa kalo kita udah coba, dan itu juga bukan berarti kita ga mau coba lagi. Keep struggling!

Ada pepatah mengatakan, "Every journey begins with the first step." Dari sini kita semua udah tau gimana caranya ngambil langkah pertama. SO WIND UP YOUR CLOCK! AND DON'T FORGET TO ENJOY THE JOURNEY! :D